Minggu, 10 Juni 2012
Akankah Cinta Datang Kembali (cont 3)
*********
Awal masa pacarannya, Gita merasa lebih dekat lagi dengan Kendall dan masih tidak menyangka dia tetap bisa bersama dengan lelaki itu, walaupun sebagai pacar sekaligus sahabatnya. Ada saja siswi yang tidak suka dengan adanya kabar mereka pacaran, apalagi seorang siswi kelas 1F, Katelyn.
Katelyn sedari dulu sudah menyukai Kendall, tetapi saat dia mengetahui kalau Kendall sudah ada yang punya, dia shock sampai jatuh pingsan di kelasnya. Saat tersadar, dia merasa ingin membalas dendam kepada Gita yang sudah merebut pangeran impiannya itu. Di kantin, ia segera melabrak Gita dengan menyiramkan semangkuk mie panas ke mukanya.
”Heh Gita! Oh jadi elo ya yang udah ngerebut Kendall dari gue?”
“Maksud elo apaan, Kate?” Samantha bergerak membela Gita.
“Eh Sam, elo ingetin tuh sahabat elo, Kendall itu udah jadian sama gue dari dulu, jadi jangan harap ya si Gita bisa ngerebut dia dari gue! Hahahaha”
“Kate, jangan terlalu banyak ngarep deh elo! Mana mungkin Kendall bisa suka sama cewek yang ngga bermoral kayak elo? Cuma mimpi doang kali elo jadian sama dia!”
“Oooohh berani-beraninya yah elo sama gue, oke sekarang kita ribut disini!”
“Oke! Siapa takut?”
Pertengkaran antara Samantha dan Katelyn berujung dengan saling tarik-menarik rambut, tapi dengan sigap Gita melerai mereka berdua. Kendall yang melihat kejadian itu langsung menuju area sengit tersebut.
“Udah ah, kalian ini apa-apaan sih? Ngga malu apa kalian udah dilihat sama temen-temen kalian sendiri?” ujar Gita sambil menahan tangan mereka.
”Hah? Ngga salah denger tuh? Elo kali yang udah bikin malu! Engga malu juga apa elo udah ngerebut Kendall dari gue, hah?!” ucap Katelyn berusaha melayangkan tangannya ke muka Gita.
”Eh asal elo tau aja ya Git, Kendall itu udah jadian sama gue sebelum dia nembak elo. Dan gue sekarang belom putus sama dia. Jadi jangan harap elo sama dia bisa bertahan lama!”
”Eh Kate, elo bilang kita masih jadian? Udah berlalu kaleee…. jangan harap deh elo bisa balikan sama gue lagi!” ujar Kendall dari belakang.
”Aku belum mau putus sama kamu, Ken, tapi kenapa tiba-tiba kamu jadian sama dia?” Katelyn tiba-tiba memegang tangan Kendall.
Akankah Cinta Datang Kembali (cont2)
5 menit kemudian, bel istirahat berbunyi. Gita dan Samantha keluar menuju kantin. Tetapi Kendall dan Logan memutuskan untuk tetap di kelas.
"Eh, Logan, gue boleh cerita sama elo ngga?"
"Boleh, cerita apaan, Ken?"
"Sebenarnya, gue tuh suka banget sama Gita. Ngga tau kenapa gue bisa jatuh cinta sama dia…"
"Cieeeee…… terus terus?”
"Kalo menurut gue, Gita itu orangnya ceria, asik, gampang bergaul, sopan….. ngg.. banyak banget deh hal yang gue suka dari dia”
"Terus?"
”Sekarang menurut elo, apa yang harus gue lakukan buat bisa deket sama dia, Gan?”
”Hmmm… menurut gue sih, mending elo sekarang ke kantin deh, kan dia sama Samantha disitu. Terus elo tanya aja, mau ngga dia dianter pulang sama elo..”
”Hmm ide elo boleh juga tuh! Oke sekarang temenin gue kesana!”
Kendall dan Logan tanpa basa-basi segera menuju kantin. Awalnya Kendall agak malu-malu, tapi demi bisa mendapatkan Gita, ia mencoba memberanikan diri.
"Git…..”
”Ohh.. hai Ken, ada apa?”
”Hemmm….. ntar pas pulang sekolah, elo mau ngga gue anter pulang?”
“Gimana yah…. Hmm… boleh deh..”
”Oke. Gue tunggu ya, Git” Kendall berlalu meninggalkan Gita.
Gita terheran-heran, ada kabar angin apa dia ingin mengantarnya pulang. Biasanya dia tidak pernah seperti itu kepada teman perempuannya. Tapi Gita berpikir, mungkin dia sekedar menawarkan antaran pulang saja, bukan ada hal lain. Samantha di sebelahnya juga terheran-heran.
”Git, kenapa ya si Kendall tiba-tiba nawarin elo buat dianter pulang?” tanya Samantha.
”Gue gatau, Sam. Kayaknya dia ngga pernah begitu sama cewek.”
”Atau… jangan-jangan… dia suka sama elo, Git!”
”Ah, elo ada-ada aja nih! Ngga mungkin juga kaleeee…”
”Siapa tahu aja itu beneran terjadi, Git”
”Hmmm….. ”
Saat bel pulang berbunyi, Gita kaget ketika ada yang menepuk pundaknya. Rupanya itu adalah Kendall. Kemudian, Kendall mengeluarkan motornya. Awalnya, Gita sempat malu-malu untuk naik motornya, tetapi dalam hatinya, ya sudah lah, kalau dia menawarkanku, mengapa tidak?
Kendall mengantar Gita sampai di depan rumahnya. Saat Gita tiba di depan pintu, Kendall tersenyum padanya sambil mengucapkan selamat tinggal. Sempat ada tatapan mata antara mereka, tetapi dihempas ketika mamanya Gita membuka pintu.
”Kenapa yah gue tiba-tiba jadi suka sama Kendall? Padahal cuma gara-gara dia nganterin gue pulang doang, kok gue bisa suka sih…. Tapi gue suka banget sama senyumnya dia, apalagi matanya yang hijau itu….. Aahhh kok gue jadi suka sama dia sih?” Gita berucap sendiri di kamarnya, kesenangan karena kejadian tadi.
Sejak saat itulah, ketika ia bertemu dengan Kendall, hatinya berbunga-bunga. Apalagi Kendall juga pengertian kepadanya, apapun masalah yang ada padanya, Gita sering curhat dengan Kendall. Begitu dekatnya mereka berdua, sampai-sampai timbul perasaan suka sama suka diantara mereka.
Jumat, 01 Juni 2012
Akankah Cinta Datang Kembali? (fanfiction BTR)
Matahari datang menyinari dunia, di tahun ajaran baru SMA Palm Woods. Gita dengan wajah cerianya yang siap menghias dunia, seakan-akan ingin memberitahu seluruh alam bahwa ia adalah siswi baru di dunia putih abu-abunya. Tidak sabar ia untuk merasakan pahit manisnya dunia putih abu-abu di sekolah itu.
Memasuki gerbang sekolah, ia tersenyum bahagia ketika melihat betapa indahnya suasana di lingkungan sekolah……. aaahhhh sungguh terkesimanya ia melihat pohon beringin dan bunga-bunga yang melambai-lambai seakan mengucap selamat datang di sekolah itu. ”Sumpah sekolah ini bagus banget! Mudah-mudahan di dalemnya juga begitu…” katanya dalam hati.
Jam 07.00, tepat saatnya upacara pembukaan MOS. Seluruh siswa bergegas menuju lapangan, berbaris sepuluh berbanjar. Gita memilih berdiri di baris tengah. Tiba-tiba seorang siswi di sebelahnya menepuk pundaknya.
“Hai. Boleh kenalan ngga?” kata siswi itu sambil memberikan tangannya.
”Boleh. Namaku Gita. Kamu siapa?”
”Aku Samantha. Wow, nama yang sangat cantik!”
”Ahaha…. kamu bisa saja. Kamu dari sekolah mana?”
”SMP Stella. Kamu?”
”Aku dari SMP Kamboja. Salam kenal ya..”
Samantha tersenyum kepada Gita mengakhiri perkenalan itu. Setelah upacara selesai, mereka memasuki kelas baru, di kelas 1-D. Siswa-siswi di kelas itu nampaknya keturunan Eropa, karena sebagian besar berkulit putih. Tampang mereka juga ramah-ramah. Mungkin akan banyak yang mau berteman denganku, kata Gita dalam hati.
Gita dan Samantha memilih duduk di kursi paling depan, di pojok sebelah kiri. Di belakang mereka ada juga dua siswa. Gita kemudian segera berkenalan dengan dua siswa itu.
G: ”hey, kalian ngga kece nih kalo ngga kenal kita…. hahahaha….. nama kalian siapa?” (dengan sok asiknya memulai kenalan)
K: ”hahaha boleh kok, gue Kendall”
L: ”Gue Logan. Nama elo siapa?”
G: ”Nama gue Gita, di sebelah gue ini namanya Samantha. Sam, kenalin nih, ini Kendall,sebelahnya itu si Logan..”
Setelah berkenalan, mereka asyik mengobrol tentang sekolah dan kegiatan mereka. Canda tawa pun terlukis juga dari mereka, dan terlihat keakraban yang mendalam dari mereka. Karena keakraban itulah, lama-kelamaan mereka menjadi empat sekawan, dan juga empat sahabat.
Dan ketika jam 14.30, bel dibunyikan. Siswa-siswi berlarian keluar gerbang sekolah. Gita memilih pulang bersama Samantha. Ketika mereka menuju angkutan umum, mereka terkejut melihat Kendall dan Logan juga berada di situ. Kembali mereka saling bercanda tawa, sampai-sampai tidak terasa Gita sudah mau turun dari angkutan itu.
G: ”Ken, Gan, Sam, gue duluan yaa..”
K: ”Iya Git, hati-hati di jalan yaa…” (melambaikan tangan)
Besoknya, ketika Gita masuk ke kelas, tiba-tiba ia disambut riang oleh Samantha.
S: ”Hey Gitaaa! Gue punya kabar bagus buat lo!”
G: “Hah yang bener? Emangnya ada kabar apa?”
S: “Semalem gue abis ditembak lhoo sama kakak OSIS”
G: “Serius? Siapa namanya? Wiihh selamet yaa! Oh iya, pajak jadian nya dong?”
S: “Namanya James. Hahaha itu mah atur aja Git. Elo udah ngerjain Kimia belom?”
G: ”Ohh gue udah ngerjain nih”
S: ”Oke, gue liat ya, Git”
Gita memberikan buku tugas Kimianya kepada Samantha. Saat Samantha sedang menulis tugasnya, Logan dari belakang tiba-tiba menutup matanya.
L: ”Hayo tebak, ini siapa?”
S: ”Eahh… siapa yaa… gue gatau nih.. udah, buruan ah bukain mata gue ”
L: “Nih, ciluk… baaaa”
S: ”Aduuhh elo ternyata, Gan! Kagetin gue aja nih!”
L: ”Hahahaha… cieeee yang kagetan..” (ketawa)
S: ”Woooo… dasar!” (jitak Logan)
Bel masuk berbunyi. Saatnya pelajaran pertama, Kimia, oleh Bu Betha.
”Selamat pagi, Anak-anak!”
”Selamat pagi, Bu!”
”Oke. Apakah kalian sudah mengerjakan tugas halaman 28 kemarin?”
”Sudah, Buuuuu”
”Sa..saya belum, Bu” ucap Carlos, anak yang duduk di barisan tengah. Dia memang anaknya pemalas.
”Wuuuuuuu……” semua siswa menyoraki Carlos. ”Kenapa kamu belum kerjakan, Carlos?” tanya Bu Betha.
”Saya semalam ketiduran, jadi lupa mengerjakan tugas, Bu” jawab Carlos dengan sedikit terbata-bata.
”Ah, alasan saja kamu ini. Sekarang kamu kelilingi lapangan sekolah 50 kali!”
”Harus sekarang, Bu?”
”Ya iyalaahhh…. masa satu abad lagi! Cepat keluar sekarang!”
”Ba..baik, Bu”
Bu Betha kemudian menerangkan materi elektrolit. Samantha berbisik kepada Gita.
”Eh, Gita, nanti istirahat ke kantin ya”
”Pasti!”
Sabtu, 21 April 2012
Big Time Rush
Hi, I'm back again! Hahaha gue mau cerita sedikit nih tentang boyband idola gue, Big Time Rush atau BTR. Tau BTR ngga? Kalo ngga tau, gue jelasin yaa;)
Hmm... Big Time Rush itu salah satu boyband USA yang sebenarnya udah lama terkenal, tapi di indonesia nama mereka jarang didenger. Boyband ini terdiri dari 4 cowo2 yang kece-kece pastinya, Kendall, James, Carlos, dan Logan. Mereka selain kece, juga jago dance (dancenya keren dahh, liat aja di youtube), terus suara mereka hmmmm... dijamin yang dengerin bakalan jatuh ke jurang dah *lebayyy ;p
Tapi itu beneran lho, bandingin aja deh sama boyband korea atau indo, kerenan mana sama mereka? Yahh itu semua kalian yang nentuin sendiri deh ;D
Harapan gue, kalo emang mereka bakal ke indonesia, gue pengen banget liat mereka langsung di konsernya. Tapi kayaknya siihh cuma jadi mimpi gue doang kalo emang ngga bakal bisa nonton konser mereka, meskipun begitu gue sebagai Rusher (sebutan buat fan BTR) tetep support mereka biar tetep booming terus di dunia;)
Kalo mau liat seberapa kecenya members BTR, look at this photos........ check this out!
Ohiya kalo mau tau info2 terupdate tentang BTR, langsung aja follow twitter gue @AnggitaPM dan @BTRindonesia atau @TheBTRIndonesia. Kalo yang official resmi dari USA follow aja @bigtimerush atau bisa visit websitenya: http://btrband.com
Ohiya kalo mau tau info2 terupdate tentang BTR, langsung aja follow twitter gue @AnggitaPM dan @BTRindonesia atau @TheBTRIndonesia. Kalo yang official resmi dari USA follow aja @bigtimerush atau bisa visit websitenya: http://btrband.com
Rabu, 04 Januari 2012
Kecerdasan Lelaki Lusuh *ceritateladan.com
Oleh Abdul Mutaqin di eramuslim.com
Lelaki itu, secara tidak sadar telah memberiku perspektif khusus padanya. Bukan karena suaranya yang bagus ketika memimpin Shalat Shubuh berjama’ah, atau literatur hafalan suratnya yang variatif. Bukan itu. Tapi “ketergesaannya” setiap kali jama’ah Shubuh telah ditunaikan. Dia orang pertama yang membuka pintu mushallah, yang pertama ruku dan mencium sajadah dalam sujud sunnahnya setiap Shubuh. Dia pulalah orang yang pertama melangkah pergi, menjepit sandalnya setelah beberapa saat salam imam terdengar. Ia seolah tidak ingin berlama-lama bersama jama’ah yang lain, larut, tenggelam dalam dzikir. Tidak ketika ia berdiri di depan, atau ma’mum di belakang bersamaku. Begitu setiap kali kuamati. Entah, apakah pada Shubuh-shubuh lain yang terluput olehku tetap seperti itu. Ah, aku sedikit penasaran.
Angkot Biru Tua di pinggir jalan depan rumah kontrakkan yang kutinggali tidak dimatikan mesinnya. Suaranya terdengar tak halus lagi. Samar-samar kulihat sudah ada tiga penumpang duduk berjejer. Sekilas ada penumpang yang datang tergopoh-gopoh sambil membopong keranjang. Kelihatan beban keranjangnya amat berat. Sayang, keremangan Shubuh menghalangi retinaku menangkap dengan jelas orang itu. Sejurus angkot bergerak. Rupanya “si tergopoh” itu adalah penumpang yang ditunggu-tunggu sejak 10 menit menjelang pukul lima pagi sejak tadi. Perlahan Angkot itu menghilang ditelan tukungan yang melipat pandanganku, hingga tak terdengar lagi deru mesinnya.
***
Satu kali, Aku pulang berdampingan setelah Shubuh.
“Tiap pagi, berangkat, Pak ”?, kataku sambil agak tergesa mengikuti langkahnya.
“ Berangkat. Tuh, angkotnya sudah nunggu. Engga enak sama yang lain”.
Ah, rupanya angkot itu jawabannya. Dan laki-laki tergopoh itu, adalah Dia.
Mengertilah aku kini.
***
Sebagai pedagang kecil, lelaki itu tergolong ulet, tekun dan bermental baja. Pisang, Daun Pisang, Cecek (buah Nangka yang masih muda), Daun Pepaya, Daun Singkong dan berbagai sayuran kampung adalah materi dagangan yang dijualnya setiap pagi ke pasar. Keringatnya diperas seharian untuk memenuhi kewajibannya sebagai suami dari isteri serta ayah dari anak-anaknya. Konon sejak muda Dia telah memilih jalan hidupnya dengan berjualan macam begitu. Jodohnyapun bertaut di pasar pada seorang wanita penjual sayuran. Hingga seusia itu, Dia masih setia menjalani hidupnya.
Apa hasil yang dipetik dari usahanya itu? Dalam pandanganku, patut dibanggakan.
Lelaki itu memiliki pikiran maju, jauh meninggalkan rekan-rekannya sesama pedagang di “kelas”nya. Kesadaran tentang arti pentingnya sebuah pendidikan yang dimilikinya, tidak sebanding dengan dengan ukuran “karsanya”. Tapi nyatanya, Ia telah mengantarkan dua orang anaknya menyandang gelar Sarjana Pendidikan, dua orang masih menjalani kuliah, dan satu orang; si bungsu, telah kelas dua SD. Otot dan pundaknya itulah, modal menyekolahkan anaknya. Dari seratus rupiah, seribu dan uang receh yang dikelola bersama isterinya, ia sisihkan dan telah berhasil “membeli” dua caping toga yang telah berhasil disematkan di atas kepala anaknya.
Lelaki itu memang lusuh dan bau keringat ketika bergulat dengan barang dagangan yang sebagain orang memandangnya hina. Tetapi ketika sampai waktu bermunajat, Dia tak sama sekali berbeda beda dengan hamba lain yang selalu pandai menjaga citra di hadapan Allah. Bersih, segar, harum dan bermartabat. Aku mengenalnya dengan penuh kekeguman.
Lelaki itu memiliki kecerdasan emosi dan religi yang bersamaan. Sebagai orang dengan mata pencaharian yang hanya bisa “bermain di pinggiran” dia tidak merasa putus asa dengan “jatah” usaha yang Allah titipkan padanya. Malah, dua orang anaknya …
Dan sebagai orang yang menjalani hidup dengan kemampuan ekonomi sempit, Dia tidak melupakan kewajibannya mengikat bathin kepada Sang Pemberi Rizki dengan seperangkat ibadah yang kasat mata.
Aku teringat dengan kisah yang sewaktu kecil kudapat dari madrasah. Rasulullah pernah menegur agak keras seseorang yang sejak Shubuh tak berhenti bermunajat, mengangkat tangan, berdo’a memohon rizki hingga matahari telah naik tinggi. Ketika ditanya, orang itu menjawab sedang berdoa memohon rizki dan karunia kepada-Nya. Lalu Rasulullah memberinya Kapak, disuruhnya orang itu ke hutan mencari kayu dan dijual ke pasar untuk menafkahi keluarganya. Rizki tidak jatuh dari langit, imbuh Rasulullah.
Yah, hanya semata-mata berdo’a, tidak selalu menyelesaikan masalah, perut tidak menjadi kenyang dan dompet tidak terisi. Sebaliknyapun, berusaha membabi buta, memeras tenaga, otak dan otot hanya semata-mata meraup rizki tanpa menoleh kepada kampung akhirat, seratus persen tidak akan menjamin kebahagiaan abadi.
Lelaki itu bagai cermin bagiku. Di saat kita masih sempat memejamkan mata setelah subuh, dia menyambung zikirnya di ladang pekerjaannya. Dia rela memperpendek zikir Shubuhnya, karena tak ingin orang lain gelisah menunggunya terlalu lama. Di saat orang lain tak peduli dengan sekolah untuk anak-anaknya, dengan alasan makan saja susah, apalagi harus sekolah, ia malah membuktikan sebaliknya.
Semoga kita mengerti, kewajiban memberikan pendidikan kepada buah hati tidak dilalaikan.
Lelaki itu, secara tidak sadar telah memberiku perspektif khusus padanya. Bukan karena suaranya yang bagus ketika memimpin Shalat Shubuh berjama’ah, atau literatur hafalan suratnya yang variatif. Bukan itu. Tapi “ketergesaannya” setiap kali jama’ah Shubuh telah ditunaikan. Dia orang pertama yang membuka pintu mushallah, yang pertama ruku dan mencium sajadah dalam sujud sunnahnya setiap Shubuh. Dia pulalah orang yang pertama melangkah pergi, menjepit sandalnya setelah beberapa saat salam imam terdengar. Ia seolah tidak ingin berlama-lama bersama jama’ah yang lain, larut, tenggelam dalam dzikir. Tidak ketika ia berdiri di depan, atau ma’mum di belakang bersamaku. Begitu setiap kali kuamati. Entah, apakah pada Shubuh-shubuh lain yang terluput olehku tetap seperti itu. Ah, aku sedikit penasaran.
Angkot Biru Tua di pinggir jalan depan rumah kontrakkan yang kutinggali tidak dimatikan mesinnya. Suaranya terdengar tak halus lagi. Samar-samar kulihat sudah ada tiga penumpang duduk berjejer. Sekilas ada penumpang yang datang tergopoh-gopoh sambil membopong keranjang. Kelihatan beban keranjangnya amat berat. Sayang, keremangan Shubuh menghalangi retinaku menangkap dengan jelas orang itu. Sejurus angkot bergerak. Rupanya “si tergopoh” itu adalah penumpang yang ditunggu-tunggu sejak 10 menit menjelang pukul lima pagi sejak tadi. Perlahan Angkot itu menghilang ditelan tukungan yang melipat pandanganku, hingga tak terdengar lagi deru mesinnya.
***
Satu kali, Aku pulang berdampingan setelah Shubuh.
“Tiap pagi, berangkat, Pak ”?, kataku sambil agak tergesa mengikuti langkahnya.
“ Berangkat. Tuh, angkotnya sudah nunggu. Engga enak sama yang lain”.
Ah, rupanya angkot itu jawabannya. Dan laki-laki tergopoh itu, adalah Dia.
Mengertilah aku kini.
***
Sebagai pedagang kecil, lelaki itu tergolong ulet, tekun dan bermental baja. Pisang, Daun Pisang, Cecek (buah Nangka yang masih muda), Daun Pepaya, Daun Singkong dan berbagai sayuran kampung adalah materi dagangan yang dijualnya setiap pagi ke pasar. Keringatnya diperas seharian untuk memenuhi kewajibannya sebagai suami dari isteri serta ayah dari anak-anaknya. Konon sejak muda Dia telah memilih jalan hidupnya dengan berjualan macam begitu. Jodohnyapun bertaut di pasar pada seorang wanita penjual sayuran. Hingga seusia itu, Dia masih setia menjalani hidupnya.
Apa hasil yang dipetik dari usahanya itu? Dalam pandanganku, patut dibanggakan.
Lelaki itu memiliki pikiran maju, jauh meninggalkan rekan-rekannya sesama pedagang di “kelas”nya. Kesadaran tentang arti pentingnya sebuah pendidikan yang dimilikinya, tidak sebanding dengan dengan ukuran “karsanya”. Tapi nyatanya, Ia telah mengantarkan dua orang anaknya menyandang gelar Sarjana Pendidikan, dua orang masih menjalani kuliah, dan satu orang; si bungsu, telah kelas dua SD. Otot dan pundaknya itulah, modal menyekolahkan anaknya. Dari seratus rupiah, seribu dan uang receh yang dikelola bersama isterinya, ia sisihkan dan telah berhasil “membeli” dua caping toga yang telah berhasil disematkan di atas kepala anaknya.
Lelaki itu memang lusuh dan bau keringat ketika bergulat dengan barang dagangan yang sebagain orang memandangnya hina. Tetapi ketika sampai waktu bermunajat, Dia tak sama sekali berbeda beda dengan hamba lain yang selalu pandai menjaga citra di hadapan Allah. Bersih, segar, harum dan bermartabat. Aku mengenalnya dengan penuh kekeguman.
Lelaki itu memiliki kecerdasan emosi dan religi yang bersamaan. Sebagai orang dengan mata pencaharian yang hanya bisa “bermain di pinggiran” dia tidak merasa putus asa dengan “jatah” usaha yang Allah titipkan padanya. Malah, dua orang anaknya …
Dan sebagai orang yang menjalani hidup dengan kemampuan ekonomi sempit, Dia tidak melupakan kewajibannya mengikat bathin kepada Sang Pemberi Rizki dengan seperangkat ibadah yang kasat mata.
Aku teringat dengan kisah yang sewaktu kecil kudapat dari madrasah. Rasulullah pernah menegur agak keras seseorang yang sejak Shubuh tak berhenti bermunajat, mengangkat tangan, berdo’a memohon rizki hingga matahari telah naik tinggi. Ketika ditanya, orang itu menjawab sedang berdoa memohon rizki dan karunia kepada-Nya. Lalu Rasulullah memberinya Kapak, disuruhnya orang itu ke hutan mencari kayu dan dijual ke pasar untuk menafkahi keluarganya. Rizki tidak jatuh dari langit, imbuh Rasulullah.
Yah, hanya semata-mata berdo’a, tidak selalu menyelesaikan masalah, perut tidak menjadi kenyang dan dompet tidak terisi. Sebaliknyapun, berusaha membabi buta, memeras tenaga, otak dan otot hanya semata-mata meraup rizki tanpa menoleh kepada kampung akhirat, seratus persen tidak akan menjamin kebahagiaan abadi.
Lelaki itu bagai cermin bagiku. Di saat kita masih sempat memejamkan mata setelah subuh, dia menyambung zikirnya di ladang pekerjaannya. Dia rela memperpendek zikir Shubuhnya, karena tak ingin orang lain gelisah menunggunya terlalu lama. Di saat orang lain tak peduli dengan sekolah untuk anak-anaknya, dengan alasan makan saja susah, apalagi harus sekolah, ia malah membuktikan sebaliknya.
Semoga kita mengerti, kewajiban memberikan pendidikan kepada buah hati tidak dilalaikan.
Jumat, 25 November 2011
potong kue ultah 74
seru-seruan acara ultah SMAN 74
Tadi acara ultah SMAN 74 seru juga sih, apalagi panitianya yang semuanya anak2 OSIS. Guru-gurunya juga gamau kalah serunya. Di halaman depan juga diadain pertandingan bola antar guru hohoho ternyata guru bisa maen bola juga ya ahahaha ;p
Terus ada perform dari kakak2 saman, cheers, sama kakak2 shufflenya.
Kalo mau liat gimana keseruan acara ultah 74 dan pertandingan bolanya, ini dia foto2nya.
Taraaaaaaa....































Terus ada perform dari kakak2 saman, cheers, sama kakak2 shufflenya.
Kalo mau liat gimana keseruan acara ultah 74 dan pertandingan bolanya, ini dia foto2nya.
Taraaaaaaa....































Langganan:
Postingan (Atom)









